Belajar Matematika Bersama BAMSTHEGURU

26/07/2011

Masukan untuk Pak Bams

Filed under: Uncategorized — bamstheguru @ 2:32 AM

14/02/2011

Menentukan Persamaan Garis Singgung Lingkaran

Filed under: Kelas XI IPA,Perangkat Mengajar Matematika — bamstheguru @ 1:28 AM

FORMAT MEDIA PERSAMAAN GARIS SINGGUNG

(lagi…)

14/10/2010

Permutasi

Filed under: Kelas XI IPA,kelas XI IPS — bamstheguru @ 11:04 PM

Jika diberikan n objek yang berbeda maka permutasi k objek dari n objek merupakan suatu  jajaran dari k objek yang urutannya diperhatikan.(Budayasa.2008)

Misalnya diberikan tiga objek berbeda, katakan a, b, dan c. Jajaran seperti ab merupakan sebuah permutasi-2 dari tiga objek tersebut. Dengan begitu ab, bc, ac, ba, cb, dan ca merupakan 6 permutasi-2 yang mungkin  dari tiga objek tersebut.

Banyaknya permutasi-k dari n objek berbeda, tanpa pengulangan, disimbolkan P(n,k).

Contoh P(3,2) = 6

Bagaimana kita dapat menentukan P(3,2)=6?

Cara pertama: Untuk mendapatkan banyaknya permutasi-2 dari tiga objek dapat diperoleh dengan cara mendaftar semua permutasi-2 dari tiga objek yang mungkin lalu menghitungnya.

Cara kedua: Untuk mendapatkan banyaknya permutasi-2 dari tiga objek berbeda sama artinya dengan ada berapa cara menempatkan tiga objek berbeda tersebut kedalam dua tempat yang tersedia. Tempat pertama dapat diisi objek dengan tiga kemungkinan dan tempat kedua dapat diisi objek dengan dua kemungkinan sehingga dengan kaidah perkalian kita dapat memperoleh 3 x 2 = 6 kemungkinan.

03/08/2010

Tes Remidial: Masih Perlukah?

Oleh: Rikard Rahmat

Pendahuluan

Pro-kontra soal tes dalam dunia pendidikan ternyata tidak hanya berkenaan dengan ujian nasional saja, tetapi juga berkenaan dengan apa yang disebut tes remidial. Di Indonesia, meski sudah menjadi ‘kebiasaan’ sehari-hari di sekolah tes ini tetap saja menyimpan kontroversi sampai sekarang ini.

Pro-kontra berkaitan dengan tes itu sekurang-kurangnya bisa dipetakan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menyetujui adanya tes remidial; kelompok kedua tidak menyetujui adanya tes remidial; sedangkan kelompok ketiga ingin menarik perspektif yang lebih luas tentang tes itu. Kelompok yang terakhir ini tidak mau terjebak dalam sikap pro dan kontra, melainkan berusaha mengambil jarak dari argumentasi yang sering mengemuka selama ini dan lantas membuat perspektif yang ’lain’.

Garis besar pandangan masing-masing kelompok kira-kira begini: Kelompok pro menyatakan tes remidial itu perlu karena berusaha memenuhi kriteria ketuntasan mengajar (KKM). Kelompok kontra sebaliknya berpendapat bahwa tidak ada kompetensi belajar siswa yang tuntas. Menurut kelompok kedua ini, pendekatan dan prinsip belajar tuntas terbukti cocok untuk model kurikulum berbasis materi, tetapi tidak cocok bagi model kurikulum berbasis kompetensi (KBK) pada jenis sekolah umum, yaitu SD, SMP, dan SMA. Sementara itu, kelompok ketiga beranggapan bahwa tes remidial selalu menempatkan siswa sebagai ’korban’ metodologi pembelajaran yang keliru. Karena itu, menurut kelompok ini, wacana tentang tes remidial seharusnya tidak melulu tertuju pada kegagalan atau bahkan lebih parah kebodohan siswa, melainkan jauh lebih penting dari itu pentingnya mengubah metodologi/cara mengajar guru. Betul bahwa ada yang salah dalam cara belajar siswa, atau ada masalah dalam motivasi belajarnya; akan tetapi, hal itu tidak memalingkan perhatian kita dari kenyataan bahwa sebetulnya adanya tes remidial itu sendiri secara implisit menunjukkan ada yang salah dalam cara mengajar guru sendiri.

Tulisan ini bermaksud untuk mengetengahkan ketiga pandangan itu secara lebih dalam dan runtut. Fokus perhatiannya, tentu saja, adalah pada pandangan yang ketiga. Penulis merasa bahwa kedua pandangan yang pertama sudah banyak dan lazim dibicarakan dalam forum-forum publik; sementara pandangan ketiga jarang sekali mengemuka padahal sangat penting untuk disadari terutama oleh semua pihak yang berhubungan dengan pendidikan/sekolah. Kalau tujuan untuk memperluas perspektif tentang tes remidial terkesan terlalu mewah, tulisan ini sekurang-kurangnya bertujuan untuk membagi salah satu perspektif tentang tes remidial itu; yaitu, tentang perspektif yang ketiga itu.

Untuk mempermudah pembahasan, kami akan membuat alur penulisan, sebagai berikut. Pada bagian pertama (I) akan dibahas tentang pandangan yang pro terhadap terhadap tes remidial. Bagian ini akan langsung disusul bagian kedua (II), yaitu tentang pandangan yang kontra terhadap tes remidial. Setelah bagian I dan II, akan dibuat rangkuman atas kedua pandangan tersebut (III). Bagian keempat (IV) akan mengetengahkan perspektif yang ’lain’, yang lebih luas, terhadap tes remidial. Pandangan Marc Prensky tentang dua tipologi yaitu digital natives dan digital immigrants dalam kaitannya dengan proses pembelajaran di kelas akan sangat membantu kami mengelaborasi bagian ini lebih dalam. Akhirnya, kami akan menutup tulisan ini dengan catatan dan tanggapan ringkas (V). Harapan kami, semoga tulisan ringkas ini memprovokasi wacana yang lebih dalam tentang tes remidial, dengannya membantu memperbaiki cara berpikir dan cara pandang tentang tes remidial dan semua jenis tes pada umumnya sekaligus membantu meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

I. Kelompok Pertama: Tes Remidial Itu Perlu

Umumnya ada dua alasan mengapa tes remidial diperlukan. Pertama, alasan legal-yuridis. Kedua, alasan pedagogis.

Dari kacamata legal-yuridis, penerapan tes remidial di sekolah-sekolah memang memiliki landasan hukum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)[1] yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika mencapai standar tertentu, seorang peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.

Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran tertentu.[2]

Pembelajaran tuntas dilakukan dengan pendekatan diagnostik/preskriptif. Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual; artinya, meskipun ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), kegiatan belajar juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik sehingga potensi masing-masing mereka berkembang secara optimal.

Dari kacamata pedagogis, para pendukung tes remidial menyatakan bahwa ketuntasan penguasaan SK dan KD merupakan ukuran keberhasilan proses belajar peserta didik. Dengan kata lain, umumnya dikatakan proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita belum dikatakan baik apabila peserta didik belum menguasai materi pembelajaran secara tuntas.[3]

Sehubungan dengan itu, belajar tuntas berlandaskan pada beberapa premis, di antaranya: (1) semua individu dapat belajar; (2) orang belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda; (3) dalam kondisi belajar yang memadai, dampak dari perbedaan individu hampir tidak ada; (4) kesalahan belajar yang tidak dikoreksi menjadi sumber utama kesulitan belajar.

Belajar tuntas didasari oleh keyakinan akan kemampuan belajar manusia. Setiap orang bisa belajar (secara tuntas), meski dengan tingkat kecepatan penguasaan yang berbeda-beda. Pendekatan ini juga mengakui bahwa kegagalan seseorang dalam sebuah tes tidak melulu karena ia bodoh, melainkan bisa jadi karena cara belajar yang keliru. Kelemahan ini nantinya akan diperbaiki dalam pembelajaran remidial (remidial teaching). Selain itu, pendekatan ini dianggap fair, sebab mengakui bahwa kondisi fisik-emosional-psikologis setiap orang ketika mengerjakan tes berbeda-beda sehingga berakibat pada hasil yang berbeda pula. Pemberian kesempatan untuk melakukan tes remidial dianggap sebagai realisasi prinsip fairness tersebut.

II. Kelompok Kedua: Tes Remidial Tidak Perlu

Kelompok yang menganggap tes remidial tidak perlu juga didasarkan pada beberapa alasan berikut ini.

Pertama, yang paling mendasar, pendekatan dan prinsip belajar tuntas (KKM) menyalahi filosofi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada jenis sekolah umum, yaitu SD, SMP, dan SMA. Menurut mereka, dalam model KBK tidak ada kompetensi belajar siswa yang tuntas. Pendekatan dan prinsip belajar tuntas terbukti cocok untuk model kurikulum berbasis materi, tetapi tidak cocok bagi model kurikulum berbasis kompetensi pada jenis sekolah umum, yaitu SD, SMP, dan SMA. Karena jenis kompetensi siswa di sekolah umum masih bersifat umum, tidak terlalu khusus, tidak kaku, dan tidak sekuensial (berurutan ketat sesuai dengan prasyarat kompetensi yang lebih tinggi), tak relevanlah diterapkan ketuntasan belajar. Tidak logis, jika siswa yang belum mampu menulis puisi disuruh mengikuti tes remidial minggu depan dan sim-salabim ia akan mampu dalam satu minggu.

Kedua, tes remidial tidak mempertimbangkan perbedaan potensi dan bakat yang nyata di antara masing-masing siswa. Apalagi kenyataan menunjukkan mata pelajaran yang diremidialkan itu umumnya tidak diminati oleh siswa. Selain faktor cara mengajar guru yang tidak menarik, salah satu faktornya adalah siswa memang tidak memiliki bakat dan potensi di bidang yang diremidialkan itu. Ringkasnya, tes remidial menyeragamkan potensi dan bakat siswa.[4]

Ketiga, implementasi/praktik tes remidial di sekolah-sekolah Indonesia dianggap salah kaprah. Ada dua hal yang mereka kemukakan berkaitan dengan hal ini. (1) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)[5] sudah jelas adalah model kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi adalah kemampuan siswa yang telah terbukti demonstrable, (dapat didemonstrasikan, dapat ditunjukkan), observable (dapat diamati dengan pancaindra), consistent (ajek, cenderung menetap dan bahkan berkembang), specific (khusus, tak terlalu umum), dan integrated (mengintegrasikan pengetahuan atau ranah kognitif, keterampilan atau ranah psikomotor, serta nilai dan sikap atau ranah afektif).

Namun, dalam kenyataan para guru masih dominan menilai siswa dengan menggunakan tes pilihan ganda dan esai dalam tes remedialnya. Menurut alur pandangan ini, kita tidak bisa menilai kompetensi berbicara dalam bahasa Inggris (English speaking) dan kompetensi menulis dalam bahasa Inggris (English writing) dengan dua jenis tes ini. Seharusnya dipakai alat penilaian unjuk kerja (performance) untuk English speaking dan alat penilaian indikator-skor maksimum yang menunjukkan bobot berbeda. Kita tidak bisa menilai kompetensi melakukan percobaan IPA, kompetensi menggunakan alat, kompetensi mengendalikan variabel, dan kompetensi membuat laporan percobaan IPA dengan tes pilihan ganda dan esai. Jika kedua tes ini yang dipakai, jelaslah penilaian itu tidak sahih (valid) karena salah menggunakan alat penilaian. Terjadi mismatch antara alat yang dipakai untuk menilai dan apa yang dinilai. Jika sebuah penilaian tidak sahih, otomatis penilaian itu tak terpercaya (unreliable).

Model tes remidial yang yang objektif-benar-sahih, dan ini juga berlaku untuk tes-tes yang lain seperti UN, adalah yang memasukkan pula bentuk penilaian praktikum dan penilaian portofolio berupa karya siswa dua (2) dimensi yang dimasukkan ke dalam portofolio karena ditulis pada kertas dua (2) dimensi (dimensi panjang dan dimensi lebar).

(2) Tes remidial yang selama ini dilakukan oleh sekolah-sekolah di seantero tanah air jarang sekali didahului remidial teaching (pengajaran remidial). Padahal, syarat mutlak pendekatan belajar tuntas adalah jika siswa tidak mencapai batas lulus KKM, kepadanya harus diberikan pengajaran remidial dengan metode yang berbeda. Misalnya, kalau materi tentang hukum Bernoulli sebelumnya diceramahkan dan ternyata siswa gagal, guru harus mengganti metode dalam pengajaran remidial, misalnya dengan praktikum menggunakan tabung Pitot; setelah itu, barulah siswa itu mengikuti tes remidial.

Keempat, masih ada hubungannya dengan poin kedua di atas, banyaknya mata pelajaran yang diikuti membuat tes remidial menjadi beban baik bagi siswa maupun bagi guru. Bayangkan, misalnya, seorang siswa karena satu dan lain hal terpaksa mengikuti tes remidial untuk 3-4 mata pelajaran. Persoalan menjadi tambah rumit ketika ketiga atau keempat mata pelajaran itu ternyata memang sejak awal tidak disukai atau tidak menjadi bakat/minatnya. Adanya tes remidial lalu menjadi seperti memikul beban berat. Di berbagai negara maju, demikian alur pandangan ini, siswa tidak diwajibkan mengikuti semua mata pelajaran. Terutama pada jenjang SMA, siswa yang bercita-cita menjadi dokter misalnya hanya dituntut lulus ujian nasional untuk tiga (3) mata pelajaran, misalnya Biologi, Kimia, dan Matematika. Siswa yang hendak memasuki fakultas teknik, jurusan teknik mesin misalnya, hanya mengikuti maksimal 4 mata pelajaran dalam ujian nasional seperti Fisika, Matematika, TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan Bahasa Inggris. Siswa yang berencana menjadi ahli hukum hanya memilih mengikuti ujian tiga (3) mata pelajaran, misalnya Sosiologi, Sejarah, dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Sistem pendidikan Indonesia seolah tidak mau peduli dan tidak mau belajar dari negara-negara lain yang telah berusaha melayani para siswa sesuai dengan perbedaan individualnya. Seolah-olah kemampuan siswa kita jauh melampaui taraf kemampuan siswa di negara-negara maju, yang lantas mendidiknya menjadi supermen atau superwomen: berupaya menguasai semua hal dan semua bidang, sesuatu yang dalam kenyataan mustahil terjadi. Kenyataan ini merupakan sesuatu yang ironis mengingat KTSP dikatakan berusaha menerapkan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik.

Sementara itu, bagi guru banyaknya tes remidial berarti tambahan pekerjaan; apalagi, banyak sekolah yang tidak menyediakan honor khusus bagi guru-guru yang menyelenggarakan tes semacam ini. Hal itu jelas hanya menyita waktu dan tenaganya saja.

III. Rangkuman

Kedua pandangan di atas bisa diringkaskan sebagai berikut. Menurut kelompok yang pro, memang sudah selayaknya peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran. Tes remidial dilakukan dalam rangka ketuntasan itu. Tanpa itu, proses belajar mengajar tidak bisa dikatakan berhasil. Alasan legal-yuridis melandasi implementasi tes itu sekaligus memperkuat keyakinan mereka. Sebaliknya, menurut kelompok kontra, tes remidial tidak sesuai filosofi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Tes ini dianggap kental berbau kurikulum berbasis materi, berusaha menyeragamkan potensi dan bakat siswa, menjadi beban baik bagi guru maupun bagi siswa, serta pelaksanaannya ternyata tidak mencerminkan filosofi ketuntasan belajar itu sendiri.

Penulis akan memberi tanggapan ringkas atas pandangan-pandangan mereka di bagian akhir tulisan ini. Sebelum itu, ada satu hal yang patut dicatat. Yaitu, kedua kelompok ini sama-sama baik implisit maupun eksplisit menempatkan kegagalan siswa dalam tes reguler sebagai faktor utama dan satu-satunya di balik pelaksanaan tes remidial. Seperti sudah disinggung sepintas di muka, siswa diperlakukan sebagai ’korban’, sebagai ’objek’ ketuntasan belajar, sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap dilaksanakannya tes remidial.

Paparan di bagian keempat berikut ini mau menunjukkan bahwa ’tes remidial’ dan sejenisnya itu merupakan produk dari ketidakkompetenan (incompetence) guru juga, terutama dalam menyajikan bahan pelajaran secara menarik (fun learning) dan inovatif melalui dukungan teknologi digital. Jadi, adanya tes remidial sekaligus juga menunjukkan secara implisit bahwa ada yang salah dalam cara mengajar guru. Dengan demikian, ’tanggung jawab’ terhadap terjadinya tes remidial tidak melulu ’ditimpakan’ kepada murid/siswa.

IV. Kelompok Ketiga: Perspektif yang ’Lain’ sekaligus Tantangan Masa Depan

Dalam tulisannya dalam jurnal pendidikan ”On The Horizon”[6] Marc Prensky, seorang pemerhati dan konsultan pendidikan ternama menulis bahwa tantangan utama proses belajar mengajar di masa depan adalah guru; yaitu, guru yang profesional, adaptif, melek teknologi, kreatif, dan inovatif. Beginilah penjelasan Persky:

Menurutnya, siswa dewasa ini bukan bagi orang-orang yang menjadi sasaran desain mengajar dari sistem pendidikan kita.[7] Siswa berubah secara dramatis. Yang berubah tidak hanya cara mereka berpakaian, merawat diri, berbicara, gaya, dan seterusnya; melainkan bahkan telah terjadi diskontinuitas yang besar. Faktor utama yang menggerakkan perubahan itu adalah penyebaran teknologi digital sejak dekade terakhir abad ke-20. Komputer, videogame, digital music players, video cams, telepon genggam, email, internet, dan semua bentuk permainan yang dihasilkan oleh abad digital ini. Semua itu menjadi bagian integral dari hidup mereka.

Sebagai akibatnya, lanjut Persky, siswa dewasa ini memikirkan dan memproses informasi secara fundamental berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Perbedaan itu bahkan jauh melampaui apa yang diduga dan disadari oleh sebagian besar guru. “Jenis pengalaman yang berbeda menghasilkan struktur otak yang berbeda pula,”[8] kata Persky mengutip pendapat Dr. Bruce D. Perry dari Baylor College of Medicine. Sangat mungkin bahwa otak para siswa kita secara fisik berubahdan berbeda dari otak kita – sebagai hasil dari perubahan lingkungannya (baca: teknologi digital itu). Namun, terlepas dari benar-tidaknya pernyataan itu secara harfiah, kita dapat mengatakan dengan yakin bahwa pola-pola berpikir (thinking patterns) mereka telah berubah.

Inilah yang disebut dengan net generation atau digital generation, atau dalam istilah Persky sendiri digital natives. Semua siswa kita dewasa ini merupakan native speakers dari bahasa digital komputer, video games, dan  internet. ‘Aksen’ teknologi menjadi bagian integral dari ‘aksen’ mereka juga.

Lalu, istilah apa yang pas untuk para guru? Menurut Persky, mereka adalah digital immigrants. Bahkan menurut para ilmuwan, mereka menempati bagian otak yang berbeda ketika berhadapan dengan teknologi. Sebagaimana halnya semua imigran dalam arti harafiah, ketika belajar para digital immigrants (selanjutnya disingkat DI) umumnya mempertahankan pada tingkat tertentu “aksen lama mereka’, yaitu pola belajar-mengajar dan cara berpikir mereka. Ada banyak contoh ’aksen’ DI. Misalnya, mencetak email atau bahkan meminta sekretaris mencetaknya untuk mereka, perlunya terlebih dahulu mencetak sebuah dokumen yang ada di komputer sebelum membacanya atau menyuntingnya daripada langsung menyuntingnya di layar; membawa seseorang secara fisik ke ruangan kantor Anda untuk melihat sebuah situs menarik daripada mengirimkannya URL.

Menurut Persky, masalah terbesar yang dialami dunia pendidikan kita adalah para guru DI kita, yang berbicara dengan bahasa yang ketinggalan zaman (bahasa dari abad pra-digital), mengajar suatu populasi yang berbicara dengan bahasa yang sama sekali berbeda. Akibatnya, yang terjadi adalah cara mengajar mereka tidak nyambung dengan ’struktur otak dan pengalaman’ para digital natives (selanjutnya: DN). Inilah ciri-ciri DN itu:[9] terbiasa menerima informasi dengan begitu cepat, suka proses pararel dan multi-task, lebih suka melihat grafik terlebih dahulu daripada teks dan bukan sebaliknya, lebih suka akses acak (random access) seperti hypertext. Mereka belajar dengan baik ketika dibuat dalam jaringan (networked), lebih berusaha mengejar gratifikasi dan penghargaan yang sering. Selain itu, mereka lebih suka permainan-permainan (games) daripada proses belajar-mengajar yang kaku dan ’serius’.

Sayangnya, DI biasanya sedikit sekali menaruh perhatian para keterampilan-keterampilan baru ini yang telah diperoleh dan dikuasai oleh para DN melalui serangkaian interaksi dan praktik sebelumnya. Keterampilan-keterampilan ini hampir semuanya asing bagi DI, yang juga mempelajarinya dan mengajarinya dengan begitu perlahan, langkah demi langkah, satu per satu, secara individual, dan di atas semuanya itu secara serius. Menurut Persky, siswa DN tidak sabaran dengan semua hal berikut ini: bahan-bahan kuliah, logika langkah demi langkah, dan cara belajar tell-test. Mereka lebih suka belajar di depan TV atau sambil nonton video-game, terbiasa dengan hiperteks yang cepat, unduh musik, telepon genggam di saku, perpustakaan di laptop mereka, pesan-pesan beamed atau instant messaging.

DI tidak akan percaya kalau siswanya dapat belajar dengan baik sambil menonton TV atau mendengarkan musik, karena mereka sendiri tidak (bisa/pernah) melakukan hal yang sama. DI berpandangan learning can’t (or shouldnt) be fun.

Lalu, apa hubungan antara semua penjelasan Persky ini dan tes remidial? Saya hanya ingin menegaskan sekali lagi poin penting ini: bahwa faktor kegagalan siswa dalam tes ‘reguler’ yang berbuntut tes remidial itu seyogyanya tidak ditimpakan kepada siswa semata; melainkan, juga pada guru. Siswa generasi sekarang berbeda dengan siswa generasi dulu ketika para guru yang mengajar sekarang masih menjadi siswa-siswa sekolah menengah. Karena itu, metodologi/cara mengajar guru seyogyanya juga adaptif, kreatif, dan inovatif. Untuk sampai ke situ, guru masa sekarang dan guru masa depan, menurut saya, dituntut untuk lebih profesional, melek teknologi agar bisa menyesuaikan diri dengan “struktur otak” para digital natives.

Mungkin betul bahwa sebagian kegagalan dalam tes ‘reguler’ itu disebabkan karena kondisi fisik-emosional-psikologis siswa yang kurang stabil, atau karena siswa itu sendiri malas belajar. Akan tetapi, besar juga kemungkinan bahwa mereka yang gagal itu sebetulnya anak-anak cerdas dan mampu secara intelektual, yang sayangnya tidak bisa menangkap penjelasan guru karena kurang nyambung dengan “bahasa” guru-guru mereka. Hal ini merupakan tantangan bagi para guru di tengah generasi digital natives dewasa ini.

V. Tanggapan

Tulisan ini telah memetakan dua pandangan yang sering mengemuka berkaitan dengan tes remidial sekaligus mengetengahkan perspektif ’lain’ yang jarang terungkap. Lalu, bagaimanakah sikap kita yang terbaik terhadap tes remidial itu?

Pada bagian ini, saya akan menunjukkan bahwa kedua pandangan dia tas (pro dan kontra) sama-sama mengandung kelebihan dan kelemahan. Lalu saya akan menunjukkan mengapa perspektif yang ‘lain’ itu perlu dipertimbangkan untuk mengisi kelemahan kedua perspektif itu.

“Jalan Tengahnya” begini: tes remidial itu perlu, tetapi tidak cukup kalau hanya mengukur pengetahuan tingkat rendah (kognisi). Enduring understanding siswa terhadap setiap mata pelajaran, bagaimanapun juga, sangat penting. Di Indonesia, tes remidial itu memang identik dengan pilihan ganda dan esai, dan jarang terdengar tes remidial berupa performance test (unjuk kerja). Itu tidak berarti tes remidial untuk mengukur pengetahuan tingkat rendah itu tidak penting; hanya, perlu berjalan seiring dengan performance test. Sebab, bagaimanapun juga penguasaan dan pemahaman basic knowledge itu penting untuk menguasai pengetahuan tingkat yang lebih tinggi.

Untuk mengantisipasi terlalu banyak mata pelajaran yang diremidialkan, hal mana akan sangat merepotkan siswa dan guru, menurut saya tidak semua mata pelajaran diremidialkan. Cukup mata pelajaran tertentu saja, yaitu mata-mata pelajaran penting dan mata pelajaran yang memang sesuai dengan minat dan bakatnya. Karena itu, guru  harus benar-benar mengenal potensi dan bakat masing-masing siswanya. Bagaimana menentukannya? Menurut saya siswa dan guru perlu membuat semacam kontrak di awal semester. Guru seyogyanya membicarakan hal ini dan membuat kebijakan yang baik bagi siswa (-siswa)nya. Selain itu, melalui dialog dan interaksi personal dengan masing-masing siswa.

Catatan penting berikutnya adalah mutlak perlu adanya remidial teaching, misalnya after class. Tanpa itu, tes remidial yang dilaksanakan bakal mengulangi kesalahan yang sama.

Di atas semuanya itu, guru di generasi digital natives ini dituntut untuk lebih profesional, melek teknologi sehingga bisa menciptakan proses belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan, yang nyambung dengan “bahasa” para generasi digital natives itu.

Daftar Pustaka

Buku:
BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). 2006. Standar Isi 2006 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta.

Gredler, Margaret E. 2001. Learning and Instruction. Theory Into Practice. New Jersey. Merrill: Prentice Hall

Marc Prensky dalam  jurnal “On The Horizon”, MCB University Press, Volume. 9 No. 5,  October 2001.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sukandi, U. Karim, SKA, Maskur (2000), Pelatihan Belajar Aktif, Jakarta: The British Council

Zainul, Asmawi. 2005.  Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.

Situs:

http://www.docstoc.com/docs/2862090/8PEMBELAJARAN-REMIDIAL_270208.

http://blog.persimpangan.com/blog/2007/08/04/remidial-dan-motivasi-belajar-para-siswa/

http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar_tuntas

http://www.docstoc.com/docs/2862090/8PEMBELAJARAN-REMIDIAL_270208.

http://209.85.173.132/search?q=cache:PIYwaD-3mQgJ:sman2-.

http://sbelen.wordpress.com/.)


[1] Bdk. http://www.docstoc.com/docs/2862090/8PEMBELAJARAN-REMIDIAL_270208.

[2] Dengan kata lain, belajar tuntas (mastery learning) adalah filosofi pembelajaran yang berdasar pada anggapan bahwa semua siswa dapat belajar bila diberi waktu yang cukup dan kesempatan belajar yang memadai. Selain itu, dipercayai bahwa siswa dapat mencapai penguasaan akan suatu materi bila standar kurikulum dirumuskan dan dinyatakan dengan jelas, penilaian mengukur dengan tepat kemajuan siswa dalam suatu materi, dan pembelajaran berlangsung sesuai dengan kurikulum. Dalam metoda belajar tuntas, siswa tidak berpindah ke tujuan belajar selanjutnya bila ia belum menunjukkan kecakapan dalam materi sebelumnya. (Lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar_tuntas)

[3] Kenyataannya di sekolah-sekolah di Indonesia, banyak peserta didik tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran, mutu pendidikan secara nasional masih rendah. (Lih. http://209.85.173.132/search?q=cache:PIYwaD-3mQgJ:sman2-.)

[4] Usaha penyeragaman itu barangkali pernah membuat stres para siswa berikut ini, yang kemudian menjadi tokoh-tokoh terkenal. (1) Winston Churchill, perdana menteri Inggris di Perang Dunia II, pemimpin dan orator amat hebat abad ke-20, tampak bodoh waktu masih kecil. Dia mendapat nilai buruk di sekolah. Dia juga gagap kalau berbicara. Sampai-sampai ayahnya berpikir, bahwa bila dewasa ia tidak akan dapat hidup di Inggris. (2) Bethoven diremehkan gurunya karena ia tidak bisa membuat perkalian dan pembagian. (3) Charles Darwin, pendekar teori Evolusi, berprestasi amat buruk di sekolah. Teorinya amat hebat. Waktu masih duduk di bangku sekolah, ayahnya pernah mengatakan, ia hanya memalukan keluarga. (4) Rapor Stephen Hawking, astronom penemu lubang hitam (black hole), yang masih hidup sampai sekarang di University of Cambridge, Inggris, pada merah waktu di SMA. Ayahnya amat frustrasi. (5) G.E.Chesterton, penulis kenamaan, tidak dapat membaca sampai di kelas 3. (6) Emile Zola, sastrawan besar, mendapat nilai nol dalam ujian akhir sastra. Bahkan, seorang guru memukulnya karena menganggap ia suka “bingung” dan mengajukan terlalu banyak pertanyaan. (7) Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson bahkan belum bisa membaca sampai berusia 11 tahun. (8) Pernah orang tua Albert Einstein amat cemas terhadap prestasi sekolah Einstein yang sangat rendah. Nilai yang baik hanya untuk pelajaran Matematika. Namun, awal SMA malah gagal dalam pelajaran ini. Ia suka melamun. Waktu berusaha masuk Institut Politeknik Swiss, ia malah gagal tes dan harus pindah ke sebuah sekolah di kota kecil, dan indekos di rumah salah seorang gurunya. (Lih. http://sbelen.wordpress.com/.)

[5] Bdk. http://sbelen.wordpress.com/.

[6] Bagian ini berhutang budi pada tulisan Marc Prensky dalam  “On The Horizon”, MCB University Press, Volume. 9 No. 5, October 2001. “On The Horizon”  adalah sebuah jurnal pendidikan berbasis di Amerika. Naskah/tulisan aslinya penulis unduh dari internet dalam bentuk Pdf berjudul “Digital Natives, Digital Immigrants”.

[7] Kutipan aslinya: “Our students have changed radically. Today’s students are no longer the people our educational system was designed to teach.” (Ibid.)

[8] Kutipan aslinya: “Different kinds of experiences lead to different brain structures,“ says Dr. Bruce D. Perry of Baylor College of Medicine. (Ibid.)

[9] Kutipan aslinya: “Digital Natives are used to receiving information really fast. They like to parallel process and multi-task. They prefer their graphics before their text rather than the opposite. They prefer random access (like hypertext). They function best when networked. They thrive on instant gratification and frequent rewards. They prefer games to “serious” work.” (Bdk. Ibid.)

25/07/2010

Sumber Pembelajaran Statistika

Filed under: definisi statistik,Kelas XI IPA,kelas XI IPS,statistik — bamstheguru @ 7:11 AM

http://sirusa.bps.go.id/

www.sensuspenduduk.com

http://www.bps.go.id/

 

pada website tersebut tersedia informasi tentang beberapa istilah penting:

Data
Kumpulan dari angka-angka maupun karakter-karakter yang tidak memilii arti. Data dapat diolah sehingga menghasilkan informasi.

Estimator

Ukuran matematika, metode rumusan untuk memperkirakan parameter populasi berdasarkan sampel. Suaru estimasi adalah random variabel yang dihasilkan dari sampel probabilita.

Frame Unit

Unit / bagian dari kerangka contoh, yang dapat memberikan ciri / perbedaan adri elemen populasi / unit sampel. Contoh adalh kartu dari susatu file, blok dalam kota, kerangka unit sering dibagi / digabungkan dari unit sampel.

Galat

Error atau kesalahan

Hipotesa

Pernyataan spesifik yang bersifat prediksi dari hubungan antara dua atau lebih variabel

Informasi

Data yang telah diolah menjadi bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata, berupa nilai yang dapat dipahami di dalam keputusan sekarang maupun masa depan

Karakteristik

Sifat umum dari variabel atau atribut. Observasi atau ukuran khusus yang diambil dari sampel.

Kerangka Contoh
Suatu daftar dari seluruh unit contoh dari populasi. Hal ini akan memudahkan dalam pemilihan sampel / contoh atau suatu kerangka yang berisi elemen -elemen dari seluruh populasi.

Nilai Perkiraan

Nilai rata-rata dari semua kemungkinan perkiraan pada suatu keadaan khusus. Tanda E digunakan sebagai lambang dari nilai harapan, dengan tanda E untuk varianse X maka nilai harapannya dapat ditulis E(x)=?PiXi. Dimana Pi adalah probability dari perkiraan. Anggap Pi merupakan probability pada suatu perkiraan Xi nilai-nilai X yang diperoleh dari perkiraan.

Populasi

Seluruh himpunan tertentu yang didapat dari survei. Dari kesimpulan sampel dibuat elemen himpunan yang disebut populasi. Spesifikasi lengkap yang terdiri dari populasi adalah langkah penting dalam peluang sampling. Meskipun tidak selalu penting untuk mempunyai elemen yang teridentifikasi dan terdaftar lebih dulu untuk seleksi ruang sampel. Elemen dari populasi harus didefinisikan dalam ruang dan waktu yang dimaksud.

Populasi Statistik
Himpunan data tentang karakteristik semua elemen dari populasi. Diasumsikan ada N elemen dalam populasi. Tipe penyajian dari N nilai-nilai karakteristik X yaitu X1, X2, ….., Xn dan Xi meakili nilai-nilai karakteristik dengan harga X pada elemen ke-i. Kata populasi sering digunakan dalam mengganti kata populasi statistik jika menyelidiki data.

Population Parameter
Nilai yang tidak diketahui dan akan diduga. Parameter didapat dari nilai X unit sampel untuk mencari nilai dari N elemen populasi itu.

Probabilita Sampel
Sebuah sampel yang diperoleh dari aplikasi teori peluang. Dalam probabilita sampling, tiap elemen dalam suatu populasi tertentu yang diketahui tidak sama dengan nol, peluang matematika akan terpilih mungkin menyatakan elemen-elemen populasi dan daerah peluang pemilihan.

Probability Distribution
Kemungkinan-kemungkinan yang dikumpulkan dengan nilai random variabel, dapat disamakan jika ada N dalam suatu himpunan, misalkan X1,…..Xn dari peubah acak X dapat disamakan dengan nilai Probabilitas P1,…..Pn merupakan distribusi peluang dari X.

Probability Inclussion
Kemungkinan dimana setiapsampel dalam populasi mempunyai peluang sama, contoh dari N populasi akian mempunyai kemungkinan terpilih n sampel adalah n/N

Probability of Selection
Kemungkinan dimana terpilihnya suatu sampel dan sering diartikan sama dengan Probability Inclussion, hanya caranya yang berbeda yaitu contoh yang diambil dimasukkan kembali kedalam sampel unitnya.

Random Variabel

Variabel yang mempunyai kesempatan disamakan untuk beberapa nilai dalam himpunan yang khusus, kemungkinan dari itu memberikan nilai atau kesalahan diantara dua pendekatan lain yang diketahui, dapat ditentukan / didekati atau diperkirakan.

Ratio Estimator
Merupakan ratio estimator dari random variabel. Umumnya rario estimator adalh salah satu dari dua tipe, yang pertama rata-rata dri rasio dua random variabel misal Xi / Yi untuk elemen-elemen dalam sampel dan lainnya adalah rasio dari estimasi dua random varibel, misal X / Y.

Sample Frame

Spesifikasi untuk pengambilan sampel, maka spesifikasi ditentukan dengan mengenai tujuan survei dan pendekatan galat sampel kecil (efisiensi sampel dari harga yang diberikan ).

Sampling Distribution
Distribusi probabilitas dari seluruh kemungkinan estimasi dimana sebuah estimator akan menghasilkan sampling plan yang khusus sebagai ilustrasi, rujukan berdasarkan SRS, seperti diatas dan untuk rata-rata sampel (X) adalah sebagai estimator atau perkiraan rata populasi (M). Untuk setiap kemungkinan sampel memberikan ukuran / nilai yang sesuai. Ukuran ini merupakan nilai dari X. Setiap nilai dari X mempunyai kemungkinan ketelitian nilai dari X tersebut dan probabilitas ketelitiannya menyatakan distribusi sampling X untuk SRS.

Sampling Unit
Suatu unit dari populasi yang mungkin dipilih ketika suatu pemilihan secara random dilakukan untuk menarik sampel. Sampling unit dapat berupa individu dari elemen-elemen populasi dapat juga kelompok dari elemen-elemen. Beberapa sampling unit tidak mungkin berisi sebuah elemen. Jika tiap elemen memiliki satu dan hanya satu sampling unit, maka keseluruhan dari sampling-sampling unit berisi semua elemen dari populasi tanpa dihilangkan atau pengulangan, pada situasi yang komplek sebuah elemen tidak dapat dengan tertentu menghubungkan dengan hanya satu sampling unit, tetapi ini seharusnya mempunyai kemungkinan yang tidak tentu karena hubungan dengan lainnya diberikan dengan sampling unit. – Sampling unit merupakan bagian terpenting dalam teori sampling. Variasi sampling dari suatu estimasi adalah sebuah fungsi dari variasi antar sampling unit. – Sampling unit memilih semua sampling unit-unit dalam populasi, sebagaimana unit-unit yang dapat terjadi dalam sebuah sampel.

Sensus
Penelitian statistik dari sudut pandang matematik suatu kasus spesial dari penarikan contoh. Penarikan contoh adalah kasus umum dan sensus adalah kasus khusus dimana seluruh anggota elemen populasi mempunyai peluang yang sama untuk terpilih menjadi satu termasuk dalam sampel. Ada beberapa kesalahan yang diperoleh secara sensus seperti dari penelitian secara contoh.

Simple Random Sampling
Suatu hal khusus dari probabilita sampling sering disebut onrestricted random sampling. Ini adalah suatu cara untuk memilih n sampling unit pada suatu waktu dari suatu populasi, dengan N sampling unit. Sehinggga tiap sampling unit memiliki kesempatan sama terjadinya sutu sampel.Tiap kombinasi yang mungkin dari N sampling unit pada suatu waktu dengan probabilita yang sama, tanpa pengembalian, penggunaan tabel dari angka random memenuhi definisi ini dari SRS

Statistik
Jumlah (total) data-data persentase yang dapat dihitung dari populasi atau data contoh juga berarti suatu metode.

Survei Statistik
Suatu usaha penyelidikan terhadap sekumpulan data. Observasi atau pengukuran diambil dari sampel elemen untuk dibuat kesimpulan mengenai elemen kelompok tertentu. Survei-survei dilakukan dalam berbagai cara.

Snowball Sampling
Pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara menggunakan responden sebagai nara sumber untuk responden berikutnya, dan seterusnya.

True Values

Pernyataan yang teliti mempumyai konsep dan hipotesa, karena kesalahan pengukuran dalam beberapa tingkat, ketepatan tidak akan berarti dalam praktek, dalam beberapa keadaan ia akan membantu untuk mengasumsi set dari nilai yang sebenarnya T1,…..Tn untuk suatu karakteristik.

Unit Analisa

Sebuah unit untuk analisa atau tujuan analisa. Dalam banyak kata elemen, unit observasi dan unit analisa adalah unit yang sama.

Unit Observasi
Suatu unit yang mengandung infor,asi atau data

Universe
Sering disinonimkan dengan populasi. Populasi lebih disukai daripada kata elemen-elemen dari himpunan atau himpunan data dengan beberapa karakteristik dari elemen-elemen. Universe lebih disukai daripada elemen-elemen.

Validitas

Aspek kecermatan pengukuran. Atau bisa dikatakan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya

Wilayah Pencacahan (Enuneration Area)

Bagian dari suatu wilayah desa/kelurahan yang pada umumnya merupakan wilayah kerja seorang pencacah. Wilcah harus mempunyai batas yang jelas, baik alam maupun buatan, dan diperkirakan tidak akan berubah dalam jangka waktu kurang lebih 10 tahun. Sebuah wilcah pada umumnya mencakup sekitar 200-300 rumah tangga atau bangunan fisik bukan tempat tinggal, atau gabungan dari rumah tangga dan bangunan fisik bukan tempat tinggal.

STATISTIK DASAR

Definisi

Statistik Dasar adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas, baik pemerintah maupun masyarakat, yang memiliki ciri-ciri lintas sektoral, berskala nasional maupun regional, makro, dan yang penyelenggaraannya menjadi tanggung jawab BPS.

Sensus adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan semua unit populasi di seluruh wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik populasi pada saat tertentu.

Survei adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan sampel untuk memperkirakan karakteristik suatu populasi pada saat tertentu.

Kompilasi Produk Administrasi adalah cara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data yang didasarkan pada catatan administrasi yang ada pada pemerintah dan atau masyarakat

Cakupan

Statistik dasar mencakup statistik bidang ekonomi, bidang kesejahteraan rakyat, dan bidang-bidang lainnya yang jenis dan ragamnya telah dan akan dikembangkan oleh BPS.

Statistik bidang ekonomi mencakup statistik pertanian, statistik industri, statistik perdagangan dan jasa, statistik keuangan dan harga, serta statistik lintas sektor.

Statistik bidang lainnya akan ditetapkan sesuai dengan perkembangan pembangunan dan perikehidupan masyarakat.

Penyelenggaraan Statistik

Statistik dasar diperoleh melalui pengumpulan data dengan cara sensus, survei, kompilasi produk administrasi, dan cara lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Statistik dasar dapat dilakukan secara berkala, terus menerus, dan atau sewaktu-waktu yang periode pelaksanaannya ditetapkan oleh Kepala BPS dengan memperhatikan kebutuhan data baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Dalam penyelengaraan statistik dasar sejauh mungkin Kepala BPS juga tetap diberitahukan.

Pengelolaan statistik dasar dapat dilakukan secara sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi atau kombinasi dengan memperhatikan tingkat kecepatan dan kualitas data yang dihasilkan.

Pemanfaatan dan Penyebarluasan

Hasil statistik dasar diumumkan dalam berita resmi statistik (BRS) atau media lainnya yang tersedia dengan maksud agar data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pengguna data baik instansi pemerintah maupun masyarakat luas.

Hasil statistik dasar terbuka pemanfaatannya untuk umum, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BPS menyebarluaskan hasil kegiatan statistik dasar melalui berbagai bentuk media seperti media cetak, media elektronik, dan atau media lainnya yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BPS Propinsi dan BPS Kabupaten/Kotamadya menyajikan statistik dasar secara regional untuk memenuhi kebutuhan daerah yang bersangkutan.

Koordinasi dan Masukan

Dalam rangka meningkatkan dayaguna dan hasilguna yang maksimal, maka dalam penyelenggaraan statistik dasar kepala BPS selalu mengadakan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan standarisasi demi terwujudnya Sistem Statistik Nasional.

Saran dan pertimbangan yang disampaikan melalui Forum Masyarakat Statistik akan digunakan sebagai masukan yang berharga dalam penyempurnaan penyelenggaraan statistik dasar hal tersebut dapat disampaikan memalui : sirusa@mailhost.bps.go.id

 

 

 

24/07/2010

inovasi Pembelajaran Matematika

Filed under: Uncategorized — bamstheguru @ 4:33 PM

Tahukah kamu bahwa pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan sangat mudah dan fleksibel yaitu Mobile Learning adalah sebuah model pembelajaran yang mengadopsi perkembangan teknologi seluler dan perangkat HP (handphone), dimana teknologi ini dapat dimanfaatkan sebagai sebuah media pembelajaran. Selengkapnya dapat dilihat pada http://m.p4tkmatematika.org/category/tentang-kami/

Mobile learning (m-learning) merupakan paradigma pembelajaran memanfaatkan teknologi dan perangkat mobile yang perkirakan akan mengalami perkembangan pesat dan potensial seiring dengan perkembangan teknologi mobile itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari data statistik bahwa dari 240 juta jumlah penduduk Indonesia 45-50 juta di antaranya adalah pengguna/konsumen seluler. Sedangkan secara teknis, perangkat mobile yang beredar saat ini sebenarnya telah memiliki kapabilitas untuk menjalankan konten-konten berupa multimedia maupun aplikasi software. Selain itu konten yang ada kebanyakan masih bersifat hiburan dan belum banyak dimanfaatkan untuk pembelajaran.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, PPPPTK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Matematika Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia berupaya dalam pengembangan mobile learning, khususnya untuk konten pendidikan/pembelajaran matematika dan konten pendidikan secara umum untuk lebih memperkaya konten pembelajaran alternatif. Dalam pengembangan mobile learning ini digunakan aplikasi software Java dan WAP serta memanfaatkan teknologi GPRS/CDMA dan/atau teknologi transfer lain seperti bluetooth, infrared, untuk transfer dan instalasi aplikasi. Perangkat yang dapat digunakan untuk pembelajaran ini adalah telepon seluler yang mendukung WAP dan Java.

Konten pembelajaran mobile yang dihasilkan dari kegiatan ini diharapkan akan dapat didistribusikan luas dan cepat dengan biaya murah sebagai wujud kontribusi dan kepedulian terhadap pendidikan Indonesia.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami via email p4tkmatematika@yahoo.com atau muh_tamim@yahoo.com (mtamim.com)
Konten di website ini bersifat non-komersial dan bebas didistribusikan baik secara online maupun offline dengan memberikan credit/backlink ke situs ini

Program Semester Ganjil 2010 -2011

Filed under: Perangkat Mengajar Matematika — bamstheguru @ 3:43 PM

Rencana Pekan Efektif Semester

Filed under: Perangkat Mengajar Matematika — bamstheguru @ 3:39 PM

Analisa Hari Efetif

Filed under: Perangkat Mengajar Matematika — bamstheguru @ 3:35 PM

Kalender Akademik SMA Negeri 7 Surabaya

Filed under: kelas XI IPS,Perangkat Mengajar Matematika — bamstheguru @ 3:26 PM

Halaman Berikutnya »

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.